Agresi dalam Olahraga

2.1. Pengertian Agresi.
Ada beberapa teori tentang agresi yang dikemukakan oleh para ahli. Baron (dalam Bunker, 1985) definisi agresi” beberapa bentuk dari perilaku langsung kearah tujuan merugikan atau melukai hidup orang lain yang dimotivasikan untuk menghindari perlakuan seperti itu”.
Llewellyn (1982) mengemukakan bahwa tindakan agresi dapat didefinisikan seperti olahragawan yang a) dimotivasi tinggi, b) memperlihatkan energi fisik, c) tidak dihalangi rasa takut pada potensi kegagalan.
Berdasarkan definisi diatas, maka yang dimaksud dengan agresi adalah suatu tindakan yang merugikan atau melukai orang lain dan suatu tindakan yang mempunyai arti semangat  yang dapat mencapai sebuah kemenangan atau prestasi. Beberapa contoh dalam cabang olahraga yang bermotivasi semangat seperti pemain belakang dalam sepakbola akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan pemain depan lawan dengan cara mentakling maupun kontak bodi pada saat perebutan bola. Demikian juga sebaliknya pemain depan lawan akan berusaha merebut bola dengan tujuan mencetak gol kegawang lawan. Seorang pemain tenis akan berusaha memenangkan suatu point dengan cara bermain dekat net agar bola lawan dapat secepatnya dimatikan.

2.2. Teori-Teori Tentang Agresi
Menurut tinjauan asal dan karakteristik perilaku agresif. Bandura (dalam llewellyn, 1982) menjabarkan tiga teori sebab-sebab agresi pada anak: instinct theory, drive theory, dan sosial learning theory.
Berkenaan dengan instinct theory, perilaku agresif digunakan untuk proteksi. Bayi dilahirkan dengan insting dan keperluan tertentu, dimana insting merupakan proteksi diri. Refleksi tertentu pada bayi seperti contoh perilak agresif itu ber,aksud untuk proteksi.
Drive theory. Situasi agresi ini disebabkan oleh frustasi, sebagai contoh tidak dapat meraih tujuan yang diinginkan. Potensi situasi-situasi frustasi tidak perlu dihindari. Anak-anak perlu belajar menanggulangi frustasi. Sebab situasi frustasitidak dapat dihapuskan dari olahraga, olaharga memberikan suatu kesempatan yang baik untuk para pemain belajar menghadapi frustasi.
Sosial learning theory. Mungkin mempunyai implikasi yang lebih untuk para pelatih dari pada teori yang pertama dan yang kedua. Sesuai dengan teori, sebab-sebab disebabkan oleh tiga pengaruh yaitu, family, subkultur dan symbolic modeling.

2.3. Sebab-Sebab Terjadinya Agresi.
Dalam teori belajar sosial telah disebutkan bahwa yang dapat menjadi penyebab timbulnya perilaku agresi antara lain: Family,pengaruh contoh famili ditentukan oleh tiga macam pengaruh yaitu; a) penonjolan kekuatan, b) pengambilan kembali kasih sayang, c) induksi. Kapan saja dimungkinkan, para pelatih semestinya menggunakan ketiga pengaruh. Dengan olahragawan senior, para pelatih dapat menggunakan beberapa metode untuk memotivasi perilaku agresif, jika agresifnya ternyata diperlukan sekali dalam situasi olahraga.
Subcultur, merupakan penentu utama agresi dalam sekelompok sosioekonomi tertentu. Dalam beberapa subcultur perilaku agresif tidak hanya dimaafkan tetapi didorong. Penelitian pada bentuk-bentuk kultur dan subkultur pada kekerasan ditunjukkan oleh kelompok tertentu dalam masyarakat yang berbeda pergaulan mengenai agresi. Sejumlah anak dari latar belakang sosio ekonomi rendah mempertunjukkan lebih bebas mengekspresikan agresi dan menjanjikan kekerasan fisik dari pada anak yang latar belakangnya sosio – ekonomi yang lebih baik.
Pengaruh ketiga pada perkembangan agresi, symbolic modeling. Tentu tidak semua olahragawan merupakan model yang baik bagi orang-orang muda. Diyakini oleh sebagian orang bahwa televisi dapat menjadi penyebab perilaku kekerasan atau destruktif, terutama anak-anak muda dan orang menderita dari emosi yang buruk. Televisi menggunakan fakta memilih anak muda dalam percobaan pembunuhan. Para penegak hukum menentang televisi itu “mengindoktrinasisi” anak muda melakukan pembunuhan.
Dalam teks terbaru hubungannya dengan psikologi sosial olahraga. Cratty (Cratty, 1983) memasukkan sejumlahsebab-sebab terjadinya suatu agresi antara lain; a) kecenderungan faktor-faktor sosial meliputi perasaan negatif  bangsa-bangsa yang digambarkan dalam kompetisi olahraga, b) hadiah dan hukuman dikelola oleh anggota keluarga sebelum dan selama individu berkompetisi olahraga, c) pengaruh-pengaruh dari model-model agresif siapa saja yang berhasil, d) penggiatan aktivitas dan fitnes, e) perasaan tentang akibat-akibat dendam, mengganggu aktivitas kapasitas agresi dan arti yang dilihat pada aksi agresor.
Cratty (dalam Pete, 1993) membuat daftar beberapa situasi yang dapat mengarah pada peningkatan agresi dan pada masalah-masalah yang secara  potensial berbahaya; a) seorang pemain yang tidak sehat, b) seorang pemain didepan masa yang tidak ramah, c) seorang pemain dalam tim yang sedang mengalami kekalahan dalam pertandingan yang sangat ketat, d) suatu tim dari peringkat atas bermain dengan peringkat bawah, e) pertandingan antar tim yang berbeda latar belakang ras atau pemahaman etniknya, f) latar belakang permusuhan antara  dua tim dari dua ras atau dua suku bangsa yang berbeda dan atau situasi politik yang mereka wakili, g) kehadiran perbuatan agresifoleh orang lain yang tidak dihukum atau menghasilkan keuntungan. Antisipasi tentang masalah agresif ini mungkin pelatih dengan leluasa menentukan strategi untuk mencegah perilaku agresif.

2.4. Keputusan Tentang Agresi
Apabila mengajarkan perilaku agresif, pelatih harus memperhatikan norma-norma olahraga. Olahraga dipengaruhi oleh aturan dan peraturan. Olahragawan harus diajar untuk tetap berpegang pada aturan bukan untuk melanggarnya secara sembunyi-sembunyi. Kemenangan tidak memiliki arti apa-apa bila dicapai dengan mengajarkan perilaku yang tidak bermoral dan dapat menimbulkan bahaya.
Pelatih juga harus dapat menyediakan contoh peran yang sesuaidengan kelompok acuannya. Apabila ini tidak dilakukan, olahragawan mudapun dapat dengan mudah mencontoh olahragawan profesional yang paling agresif yang pernah dilihatnya. Akhirnya pelatih harus bertanya pada dirinya sendiri apakah cara mengajarnya benar dan dapat diterima secara moral. Tindakan kekerasan tidak dapat dibiarkan. Kekerasan hanya akan menghilangkan nilai-nilai luhur dari suatu usaha yang sangat manusiawi.

2.5. Menyebutkan dan Menjelaskan Tentang Proses Pengendalian Agresi oleh Para  Penggemar
Kekerasan biasanya diperoleh dari kondisi dalam lingkungan sosial. Frustasi yang diakibatkan oleh kegagalan tim dapat membawa pada kekersan penggemar. Persoalan ini dapat terlihat dengan nyata apabila pelatih menanggapi kegagalan tersebut dengan emosi yang tidak terkendali dan serangan dengan kata-kata pada offisial atau lawan. Dalam keadaan seperti ini pelatih dapat disadari dengan mudah menghasut masa untuk bertindak kekerasan. Oleh karena itu pelatih harus benar-beanr berbuat secara tepat.
Demikian juga, olahragawan harus tahu bahwa mereka menghadapi hukuman yang keras dan langsung atas tindaka perkelahian dan kekerasan liannya. Sekali ditetapkan, peraturan tersebut haruslah dipegang teguh. Pate (1993) hasil penelitian meunjukkan bahwa melihat contoh-contoh perilaku agresif agar dapatberfungsi sebagi picu agresif yabg dilakukan secara terbuka. Pelatih yang dapat mengajarkan reaksi-reaksi non kekerasan kepada olah ragawan harus memastikan bahwa offisial akan segera memberikan hukuman terhadap tindakan kekersan.
Lingkungan yang luas dapat berpengaruh pada kekerasan. Misalnya, suara yang keras dan merangsang, suhu panas yang tidak mengenakkan, keadaan berdesak-desakan atau lokasi yang berdekatan antar penggemar yang bertanding dapat mempercepat timbulnya kekerasan. Demikian juga pengaruh perorangan seperti akibat obat perangsang, alkohol atau cidera dapat mempertinggi terjadinya kekerasan.
Pelatih sebaiknya mengendalikan kekerasan dengan mencegah terjadinya kekerasan yang pertama. Ini dapat dibantu dengan mengubah beberapa peraturan perkumpulan, dengan memberikan hukuman yang lebih keras bagi pemain, pelatih dan penggemar yang melakukan kekerasan. Juga pelatih dapat membantu dengan menekankan pada para wartawan atau penyiar olahraga agar menghindari publikasi yang berlebihan tentang kekerasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: